Category: Uncategorized

Latar Belakang Film Masquerade Asal Korea Selatan Bertema KerajaanLatar Belakang Film Masquerade Asal Korea Selatan Bertema Kerajaan

Latar Belakang Film Masquerade Asal Korea Selatan Bertema Kerajaan

Latar belakang film Masquerade bersetting kepada genre kolosal merupakan sebuah keputusan tepat karena ia penuh akan sejumlah prestasi bergengsi. Total seluruh dunia, film Masquerade melejit kepopulerannya karena berhasil menjual lebih dari dua belas juta tiket bioskop manca negara.

Masquerade begitu laris sampai menerima begitu banyak penghargaan bukan hanya dari negeri sendiri, namun juga pada ranah internasional. Ia memenangkan tidak kurang dari lima belas kategori dalam Anugerah Grand Bell ke 49. Beberapa nominasi yang ia raih di antaranya yaitu film paling bagus, sutradara terbaik, naskah cerita terbaik, hingga aktor pemeran terbaik.

Latar Belakang Film Masquerade Asal Korea Selatan Bertema Kerajaan1

Kesuksesan Situs Slot Gacor Masquerade tidak lepas dari kehebatannya meramu ruang kosong dalam sejarah Korea Selatan dan menyelipkan plot cerita di sana. Berdasarkan catatan sejarahnya, Raja Gwang Hae dari Dinasti Joseon sedang memikirkan solusi diplomatif terhadap kekuasaan kerajaan China pada Dinasti Ming.

Raja Gwang Hae tersebut memutuskan untuk mengambil jalan netral karena China pada saat itu sedang ekspansi besar – besaran sehingga kekuatannya menjadi besar. Selain daripada itu, ia juga ketakutan akan surat kaleng berisi rencana matang untuk membunuhnya selama berulang kali sehingga sulit tidur nyenyak.

Saking parahnya rasa takut yang ia alami, Raja Gwang Hae menjadi paranoid dan mencurigai siapapun yang berada di istananya. Perilakunya berubah menjadi begitu menyebalkan karena mengintimidasi siapapun yang ia temui, termasuk  e pengurus dapur yang menyediakan makanan untuknya.

Latar Belakang Film Masquerade Mengisahkan Raja Gwang Hae Yang Ketakutan

Sang Raja tak tahan lagi dan mulai memerintahkan Menteri Pertahanan Negara bernama Heo Gyun untuk membantunya menemukan solusi atas kekacauan ini. Di sinilah latar belakang film Masquerade mulai terlihat, manakala Heo Gyun bertemu dengan pelawak vulgar bernama Ha-sun dari anggota sirkus.

Dilema Raja Palsu Memerintah Lebih Baik Daripada Aslinya

Ha-sun memiliki perawakan begitu mirip dan hampir sama persis seperti penampilan Raja Gwang Hae sehingga Heo Gyun mendapat sebuah ide. Ia menawarkan Ha-sun sebuah pekerjaan bergaji mahal, di mana ia harus menyamar menggantikan Raja saat menghadiri acara keluar dari istana.

Apa yang menjadi ketakutan terbesar Raja Gwang Hae akhirnya menjadi kenyataan, manakala ia kena bius oleh racun Poppy. Pelaku rencana pembunuhan tersebut ternyata merupakan permaisurinya sendiri dan bekerja sama dengan Menteri Hukum ingin melengserkan sang raja.

Beruntungnya nyawa beliau masih terselamatkan, namun ia terpaksa menjalani perawatan intensif dalam persembunyiannya sampai pulih sepenuhnya dari efek samping racun. Menteri Pertahanan Heo Gyun meminta Ha-sun menggantikan raja asli untuk memerintah sementara sampai beliau bisa sehat total dan kembali beraktifitas seperti biasanya.

Ha-sun pun seperti tertimpa durian runtuh, manakala nasibnya berubah total dari rakyat jelata yang miskin menjadi orang nomer satu di negaranya. Namun, Heo Gyun begitu terkejut mendapati bahwa Ha-sun yang nyeleneh dan serampangan justru tidak memanfaatkan kesempatan dengan bertindak serakah.

Dilema Raja Palsu Memerintah Lebih Baik Daripada Aslinya

Menariknya latar belakang film Masquerade yaitu premis bahwa Ha-sun sebagai raja palsu justru memerintah lebih baik daripada Raja Gwang Hae yang asli. Ia menunjukkan rasa kemanusiaan tinggi dan menghargai hak asasi manusia kepada siapapun tanpa memandang level jabatannya di lingkungan istana.

Raja Gwang Hae

Berkat kepiawaian serta ketulusan Ha-sun memimpin rumah tangga kerajaan, lambat laun lingkungan istana berubah menjadi lebih baik dan tenteram.  Seluruh anggota kerajaan dari berbagai lapisan menjadi bahagia dan mengidolakan sosok pemimpinnya tanpa menyadari bahwa ia adalah orang yang berbeda.

Semakin lama porsi wewenang Ha-sun semakin diperbesar oleh Menteri Heo Gyun sehingga ia hampir memiliki kendali total atas seluruh urusan negara. Menteri Heo Gyun beserta pimpinan kasim sangat salut dan respek terhadap tulusnya perhatian Ha-sun kepada seluruh rakyat dan mendekatkan diri mendengarkan keluhan mereka.

Lebih lanjut, Heo Gyun dan Kepala Kasim mulai merasa bahwa Ha-sun sesungguhnya lebih pantas memimpin daripada Raja Gwang Hae yang asli. Selagi memerintah, ia bahkan memperjuangkan kehormatan serta keselamatan sang Ratu dan melindunginya sekuat tenaga dari ancaman hukuman mati.

Konflik semakin memanas dan menjadi naik intensitasnya tatkala pihak oposisi raja yaitu Park Chung Seo menyadari perubahan drastis atas sifat raja. Sang Ratu pun tergelitik naluri dan instingnya sehingga ia mencurigai bahwa raja berwenang sekarang merupakan orang yang berbeda dengan suaminya.

Film Sultan Agung, Tetap Menarik Kendati Menuai Kritik PedasFilm Sultan Agung, Tetap Menarik Kendati Menuai Kritik Pedas

Film Sultan Agung, Tetap Menarik Kendati Menuai Kritik Pedas

Kendati menuai kritik tajam dan pedas oleh banyak kalangan, toh film Sultan Agung tetap menarik untuk ditonton. Beberapa kaum peneliti sejarah menganggap film kerajaan yang terpopuler ini menyesatkan karena kurangnya akurasi penggambaran karakter. Menyikapi komentar tersebut, sang sutradara kondang yang menggarap film Sultan Agung, Hanung Bramantyo menanggapi balik dengan santai.

Ia berkelakar, “Saya mengakui film Sultan Agung masih banyak kekurangan terhadap akurasi para tokoh. Maka dari itu, saya harap masyarakat tidak menjadikan film ini sebagai sumber sejarah,” paparnya. Setali tiga uang dengan pernyataan Hanung, film kolosal ini lebih menonjolkan sisi drama seperti cerita pada umumnya. Makanya jangan bingung, kan sudah ditulis dengan huruf besar bahwasannya tema yang diangkat adalah tentang tahta, perjuangan, serta cinta.

Film Sultan Agung, Tetap Menarik Kendati Menuai Kritik Pedas

Pertama kali jadwal tayang perdana film ini dibeberkan pada 2018, respon publik sama sekali tidak menggairahkan. Maklum lah, demam superhero sedang melanda seluruh dunia tak terkecuali Indonesia kita tercinta. Serial Avengers beranggotakan Iron Man dan kawan-kawan sukses menyedot perhatian para pencinta bioskop tanah air.

Langkah Hanung Bramantyo menayangkan Sultan Agung berdekatan dengan premiere film tema pahlawan super dinilai cukup berani dan nekat. Lagipula tanpa tekanan dari Hollywood pun, ia harus siap bertarung head to head dengan film lokal bergenre umum. Sebut saja misalnya seperti horror sensual dan kisah romantis anak remaja. Jujur saja, generasi milenial tidak terbiasa menikmati budaya sejarah dalam negeri, apalagi melirik drama kolosal. Setuju, nggak?

Meremehkan Film Sultan Agung Adalah Salah Besar

Sayang sekali, kami harus bilang bahwa kalian semua salah besar jika meremehkan film Sultan Agung. Keseruan yang ditawarkan Hanung bahkan sudah mulai terasa sejak lima menit pertama durasi penayangan. Teknik pengambilan gambar begitu dinamis dan sarat estetika, sementara akting para pemain pun ikut mendukung intensitas cerita. Kalau masih gak percaya, silahkan tonton dan buktikan sendiri betapa memukaunya permaianan Slot777 Online cara tokoh Lembayung muncul memperkenalkan diri. Nanti akan kita kupas lebih jauh tentang doi, makanya stay tune terus ya guys!

Meremehkan Film Sultan Agung Adalah Salah Besar

Pada awal cerita, mengisahkan kehidupan seorang bangsawan bergelar Raden Mas Rangsang seputar kesehariannya belajar ke perkumpulan milik Ki Jejer. Gelar kebesaran tersebut adalah milik Sultan Agung yang kita kenal melalui buku sejarah selama ini. Untuk pertama kalinya, Raden Mas Rangsang beradu pandang dengan gadis muda belia yaitu Lembayung. Namun karena satu dan lain hal, Lembayung meninggalkan perkumpulan tanpa sebab yang jelas.

Sementara itu RM Rangsang belum sempat menikmati masa mudanya dan mengenal tentang Daftar Balakplay online serta juga daftar balakplay online terbaik di Indonesia, tiba-tiba ia naik tahta menjadi raja atas kerajaan Mataram. Cepat atau lambat RM Rangsang pasti akan menduduki kursi kepemimpinan Mataram, sebab ia merupakan seorang pewaris tunggal dari sang Raja. Betapa berat beban pada pundaknya, karena harus bertanggung jawab mengelola pemerintahan dari usia belum matang.

Film Bertaburan Bintang Papan Atas

Sepertinya darah biru bangsawan mengalir pekat dalam tubuh RM Rangsang. Sebagai seorang sultan muda, ia cukup piawai dan cerdas memimpin sehingga meraih segudang prestasi. Dengan gagah berani, Sultan Agung muda mengordinir pasukan andalannya untuk menggempur benteng VOC milik Belanda di Jayakarta. Sekilas kalian bisa saja merasa bosan membaca narasi cerita yang begitu identik dengan buku pelajaran sejarah di sekolah.

Film Bertaburan Bintang Papan Atas

Tunggu dulu, apabila sudah menontonnya kalian akan kaget karena film ini bertaburan bintang aktor serta aktris kondang papan atas. Ario Bayu dipercaya memainkan peran utama sebagai Sultan Agung oleh sebab akting kharismatiknya.

Lalu masih ada Meriam Belina (Gusti Ratu Tulung Ayu), Christine Hakim (Gusti Ratu Banowati), serta Adinia Wirasti (Lembayung). Aktor senior lainnya seperti Lukman Sardi pun turut memeriahkan cerita dengan berperan sebagai paman Sultan Agung. Tak ketinggalan artis muda pendatang pun memenuhi layar lebar seperti Asmara Abigail dan Anindya Putri.

Jika kita perhatikan lebih detail, riasan wajah para pemain terasa begitu alami sehingga sangat sesuai menggambarkan potret kehidupan abad 16. Wajar sih, soalnya produser film ini dipegang langsung oleh keturunan asli Sultan Agung. Beliau adalah BRA.

Mooryati Soedibyo, yaitu juga merupakan CEO dari perusahaan kosmetik ternama dalam negeri Mustika Ratu Group. Belum lagi teknik penggunaan sinematik kamera serta scoring musiknya terbilang sukses menghidupkan segala suasana pada tiap adegan. Penasaran? Pastikan kalian menontonnya secara legal di website login sbobet resmi ya!