Rurouni Kenshin : Final Chapter 2021, Review Film Aksi Terbaru

Rurouni Kenshin Final Chapter 2021, Review Film Aksi Terbaru

Sebagai (mungkin) penghujung, Rurouni Kenshin: Final Chapter (The Final dan The Beginning) mencoba menjawab semua tanya, tetapi seakan lupa menyuguhkan apa yang pemirsa haus akan: Pertarungan. Tapi rasanya tak apa, itulah konsekuensi premis besar bersama rangkaian maju-mundur. Dua film ini sukses menggambarkan siapa memang Kenshin Himura. Berbeda dengan film tentang perjuangan sparta, Rurouni Kenshin: Final Chapter terjadi mundur dan lumayan apik memberikan ‘background’ besar cerita.

Rangkaian film Rurouni Kenshin mengisahkan berkenaan seorang pengembara bernama Kenshin Himura (Takeru Satoh), bekas pembunuh berdarah dingin di Jepang bersama latar th. 1860-an. Zaman perang peralihan rezim ia dikenal sebagai Hitokiri Bottousai (Battousai sang Pembantai). Usai rezim Syogun runtuh, ia mengganti nama menjadi Kenshin Himura dan berjanji terhadap dirinya tak kembali membunuh.

Bertahan mendukung orang yang membutuhkan, ia terhitung mendukung pemerintah Jepang menghentikan kejahatan sisa-sisa rezim Syogun yang belum semuanya hilang. Di pengembaraannya, ia tinggal bersama Kaoru (Emi Takei), Yahiko (Riku Ohnishi), dan Sanosuke Sagara (Munetaka Aoki). Bersama mereka, Kenshin melindungi perdamaian Tokyo dan Kyoto.

Review Film Serial Rurouni Kenshin Final Chapter 2021

Rasanya Rurouni Kenshin: Final Chapter (The Final dan The Beginning) tidak sanggup ditonton dan dinilai tanpa berbekal pengalaman lihat tiga film sebelumnya. Pasalnya, kedua film paling akhir selanjutnya didominasi dialog dan terjadi terlampau lambat, tak layaknya film action terhadap umumnya. Ada pertarungan, tetapi tak banyak. Terutama Rurouni Kenshin: The Beginning, paruh awal film terjadi amat, terlampau lambat. Pertemuan serta dialog Kenshin dan Tomoe menjadi sajian sejam penuh.

Namun itu beralasan, Tomoe lah kunci dan wanita paling berpengaruh di hidup Kenshin. Ialah kunci persimpangan Battousai menjadi Kenshin yang cinta damai. Kenshin yang kita tengok di cerita awal waralaba Rurouni Kenshin ternyata bukanlah khusus yang sederhana, bukan sekadar pengembara, bukan sekadar samurai ‘insyaf’. Kenshin bukanlah khusus yang banyak bicara, maka untuk mengkonstruksi kepribadiannya dibutuhkan banyak ‘celoteh’ orang di era lalu.

Rurouni Kenshin Final Chapter 2021, Review Film Aksi Terbaru

Penonton Harus Mengikuti Seri Sebelumnya Terlebih Dahulu Agar Paham Alur Ceritanya

Rurouni Kenshin: Final Chapter (2021) adalah dua film paling baru dari rangkaian sebelumnya, Rurouni Kenshin: The Origins (2012), Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno (2014), dan Rurouni Kenshin: The Legend Ends (2014). Final Chapter (The Final dan The Beginning) beberapa besar mengisahkan latar belakang persimpangan hidup Kenshin dari seorang samurai pembantai menjadi pengembara yang damai. Pintu masuk rangkaian mundur Rurouni Kenshin: Final Chapter diawali dari peristiwa pertemuan Kenshin bersama Enishi Yukishiro (Mackenyu Arata), yang ternyata adik dari mendiang istri Kenshin ketika bermain Demo Slot Pragmatic Paling Gacor Sering Keluar Jackpot.

Pertarungan Kenshin dan Enishi di The Final mempunyai pemirsa terbang mundur ke masa-masa Kenshin bertemu Tomoe (Kasumi Arimura), yang ternyata tokoh sentral didalam premis besar 5 film Rurouni Kenshin. Dua film paling akhir ini ternyata berperan penting mengisi lubang-lubang pertanyaan yang nampak di benak penonton, dan Tomoe yang mulanya nampak sekilas-sekilas ternyata adalah inti dari semua. Film ini seakan menjawab komentar dan ekspektasi pengagum Rurouni Kenshin bahwa klimaks dari rangkaian maju cerita ini memang ada di pertarungan bersama Makoto Shishio (Tatsuya Fujiwara).

Lompat jauh ke belakang di sekuel akhir sebuah waralaba adalah ide gila dan berisiko, tetapi sutradara Keishi Ohtomo seakan menjawab: penting untuk mundur ke belakang, mengenal Kenshin. Alur maju mundur selanjutnya berikan kesan bahwa waralaba 5 film ini adalah sebuah grand design yang luar biasa, dan terkonsep masak secara latar waktu. Tahun 2012 adegan berawal di Pertempuran Toba Fushumi, dan sembilan th. selanjutnya berakhir di latar pertarungan yang sama, di badai salju yang sama.